UK Petra dan Pok Tani RW 5 Rancang Green House Berkelanjutan

Green house di RW 5 Siwalankerto yang sempat tak lagi dijamah kini bersiap kembali hidup. Warga setempat difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen (UK) Petra untuk membahas rencana pengembangan lahan tersebut bersama Tim Desain Interior yang diwakili oleh Dr. Andereas Pandu Setiawan, S.Sn., M.Sn. dan Marcell Nathaniel, perwakilan BEM UK Petra pada Kamis (17/9/2026). Hadir pula Kairul Budiarto, S.H., M.M., lurah Siwalankerto bersama para warga yang diantaranya pengurus “Pok Tani”.

Staf PPM UK Petra, Felix Gamaliel Pribadi, S.T., M.Ars. membuka pertemuan dengan menjelaskan maksud dan tujuan kerja sama antar pihak. Berkenaan dengan Program Kampung Pancasila yang sedang digalakkan Pemerintah Kota Surabaya, UK Petra melihat adanya peluang untuk mengembangkan potensi wilayah sekitar lewat kegiatan pengabdian masyarakat. Selain berkolaborasi dengan dosen, rencananya pengembangan lahan green house juga akan dibantu oleh mahasiswa lewat program Kampung Binaan Mahasiswa 2026/2027 yang diadakan rutin oleh BEM UK Petra.

Pandu, dosen Desain Interior UK Petra melanjutkan diskusi dengan mengajak para warga melihat kembali potensi lahan yang tersedia. Menurutnya, keberadaan green house perlu dikembangkan dengan konsep yang dapat berjalan dalam jangka panjang agar lahan bisa dimanfaatkan secara optimal. Pemilihan lahan pun belum menemui keputusan, antara Lapangan Anta maupun green house yang sudah dimiliki oleh RW 5.

Evaluasi juga sempat dilakukan. Para warga yang selama ini hanya mengandalkan hidroponik akhirnya menemukan solusi yang lebih efektif. Pasalnya, hidroponik ternyata lebih membutuhkan pengelolaan dengan tarif tinggi sehingga potensi merugi besar adanya.

“Hidroponik itu sebenarnya menarik bapak-bapak. Tapi senangnya kalau cuma melihat hasilnya saja. Perawatannya sangat banyak dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Akhirnya pembeli pun sedikit karena harga yang ditawarkan relatif mahal dari pasaran,” pesan Pandu.

Pembahasan kemudian mengarah pada pilihan tanaman dan komoditas yang dinilai lebih menghasilkan. Pepaya dan jagung manis menjadi alternatif yang bisa ditanam. Jagung manis sebagai contoh, bisa ditanam dengan jarak yang relatif rapat sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara efisien. Harga bibit terjangkau, harga jual bersaing, keuntungan pun sangat mungkin diraih.

Selain tanaman, budidaya ikan gurame jadi gagasan berikutnya. Namun pengembangbiakannya perlu mempertimbangkan kebutuhan kolam yang cukup luas serta tanaman pendukung seperti talas. Pilihan berbagai komoditas tersebut masih menjadi bagian dari pembahasan untuk menentukan bentuk pengelolaan yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan warga.

Rencana pengembangan green house ini diharap dapat menjadi kegiatan yang terus berjalan sekalipun program Kampung Pancasila telah usai. Warga dan mahasiswa dapat bersama-sama mengelola lahan tersebut agar tetap produktif dan berkembang.

“Harapannya ada kesinambungan, baik dari warga maupun teman-teman kampus. Jangan sampai hanya gebyar (untuk lomba saja) lalu buyar (berhenti). Alangkah baiknya kalau bisa menjadi sumber pendapatan tambahan juga,” tutup Kairul, Lurah Siwalankerto.

Ke depan, kelompok tani yang saat ini berada di RW 5 diarahkan untuk berkembang dan membuka peluang kolaborasi dengan RW lain di Siwalankerto. Aktivitas pengembangan green house juga akan kembali diperkenalkan lewat media sosial agar perkembangan kegiatan, hasil budidaya, dan potensi kolaborasi dapat diketahui khalayak luas.

Scroll to Top